Now Loading

Bab 3

Kini giliran Pak Darto selaku sekretaris alias Carik serta perangkat desa lainnya. Mendampingi Pak Yanto ke kantor polisi serta rumah sakit yang selama ini menangani korban kecelakaan. Data laporan yang ada mereka bawa ke kantor Dinas Pekerjaan Umum lagi. Kembali menemui Pak Winarno.

"Datanya sesuai semua dan memang sebanyak ini ya, Pak Yanto?"

"Bisa jadi lebih dari ini, Pak Winarno. Sebab yang kecelakaan tidak selalu luka parah. Ada yang masih bisa kami tolong sama warga lainnya."

Pak Winarno pun mengangguk saja. Ternyata dia juga sudah menghubungi pihak kontraktor yang memenangkan tender untuk proyek pembuatan jalan desa itu. Pihak perusahaan kontraktor juga ikut mencari berkasnya dulu.

"Mereka mau lihat data yang ada guna mencari kejelasan dari proyek itu. Nanti kami juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian."

"Alhamdulillah kalau begitu, Pak Winarno."

Setidaknya Pak Yanto serta perangkat desa lainnya sudah mendapat titik terang. Nantinya Pak Winarno akan ikut terjun sendiri mengecek kelayakan jalan yang ada. Termasuk pihak kepolisian dan orang-orang dari perusahaan kontraktor.

"Bapak-bapak bisa pulang dulu, kita akan kabari nanti."

Rombongan perangkat desa itupun pulang. Tepat saat mobilnya melintasi jalan yang bermasalah. Para perangkat desa melihat ada keramaian di pinggir jalan. Para remaja Karang Taruna juga sudah sigap mengatur pengendara yang lain supaya tidak terjadi kemacetan.

"Itu Yudi anakmu bukan, Pak Sukardi?"

"Eh, iya kok dia malah ngatur jalan? Pasti ada kecelakaan lagi ini!"

Supir mobil ini kebetulan adalah perangkat desa yang masih muda. Dia diminta untuk berhenti di pinggir jalan. Permintaan tadi langsung dilayani olehnya. Mobil ini ditepikan terlebih dahulu. Baru para penumpangnya bergegas menyebrang untuk melihat apa yang terjadi.

"Innalilahi...benar kan dugaan saya!"

"Eh, bapak sudah pulang sama Pak Kades juga lainnya?"

Yudi langsung menghampiri bapaknya. Memberitahu jika terjadi kecelakaan lagi. Memang tidak ada korban jiwa. Tapi pengendara motor yang jadi korbannya saat ini sedang pingsan.

"Sudah telepon ambulance kan, Yud?"

"Sudah, pak! Ini aku sama anak-anak Karang Taruna lainnya lagi nunggu."

Pak Yanto hanya bisa mengelus dada. Padahal baru saja dilaporkan ke Dinas Pekerjaan Umum. Rupanya sudah kejadian kecelakaan lagi. Diam-diam Pak Carik mendekatinya sambil sedikit menjawil tangannya.

"Pak Kades, saya rasa ini makin nggak bener!"

"Saya pun juga begitu, Pak Darto. Tapi apa ya?"

Sebenarnya Pak Darto sudah mau mengundang dukun. Jelas Pak Yanto langsung menolaknya. Sebab praktik semacam ini akan dianggap syirik bagi Kades itu.

"Kita jangan percaya semacam itu, Pak Darto!”

"Ya semua pengendara yang jadi korbannya selalu berkata begitu, Pak Kades. Mereka lihat sosok perempuan rambutnya panjang dan wajahnya rata."

Seketika Pak Yanto teringat dengan peristiwa kala itu. Memang sosok yang disebutkan oleh Pak Darto sama persis seperti yang pernah dilihatnya. Berpikir itu adalah ilusi. Mungkin juga karena mata tuanya. Tetapi para remaja Karang Taruna menuturkan hal yang sama.

"Saya juga pernah melihatnya, Pak Darto. Waktu pergi pertama kalinya ke kantor Dinas Pekerjaan Umum bareng anak-anak Karang Taruna. Mereka semua juga mengakui melihat sosok yang sama.”

 

"Kok Pak Kades nggak pernah cerita ke saya!"

"Ya, saya sedikitnya lupa. Malah teringat pas Pak Darto sebutkan soal sosok itu lagi. Lalu apalagi yang membuat para pengendara kecelakaan?"

Tidak hanya sekedar melihat sosok perempuan berambut panjang serta berwajah rata yang sedang menyebrang. Ada juga pengendara mobil yang bersaksi melihat cahaya begitu terang. Hingga mengganggu pandangan mata mereka. Tiba-tiba saja ada kendaraan lain yang menabrak dari arah depan.

"Artinya tidak hanya satu sosok itu saja ya?"

"Iya, Pak Kades! Termasuk pengendara motor yang bilang kalau tiba-tiba stang motornya nggak bisa dikendalikan. Belok sendiri sampai dia nabrak pohon."

Pak Yanto mengangguk saja mendengar itu. Selama ini memang tidak pernah ada yang bercerita tentang apa yang terjadi sebelum kecelakaan. Hanya tahu tiba-tiba saja ada kejadiannya. Hingga ia dan para warga membantu korban kecelakaan.

"Tapi masalah mengundang dukun, kiyai atau apapun itu namanya. Sebaiknya jangan dulu, Pak Darto! Kita tunggu kabar dari Pak Winarno."

"Iya, nantinya mau ada polisi kemari juga ya? Ya sudah kalau begitu, Pak Kades. Kita tunggu saja kabar baik dari mereka.”

***

Tibalah hari dimana semua pihak yang terkait datang kemari. Polisi serta pihak dari perusahaan kontraktor mulai mengecek kondisi jalan. Pak Winarno memperhatikan dari pinggir jalan. Baru melangkah mendekati tim lainnya.

"Tidak ada yang aneh menurut saya jalanan ini."

"Sama, saya juga pak!"

"Menurut kami jalanan ini sudah sesuai standar yang ditetapkan oleh perusahaan. Dari jalan, kualitas aspalnya hingga konturnya dan ini masih kuat."

Pak Winarno, salah satu polisi serta orang dari perusahaan kontraktor mulai berpikir. Semuanya nampak normal sesuai dengan aturan yang ada. Lalu dimana masalahnya selama ini?

"Kalau memang ada penyebab seperti oli tumpah itu hanya terjadi di satu hari saja, Pak Winarno. Tidak mungkin sampai berhari-hari. Apalagi ini sampai berapa bulan selalu terjadi kecelakaan disini.”

"Maksud Pak Polisi ini tidak mungkin ya ada kejadian ketumpahan oli kendaraan lalu membuat kecelakaan berkali-kali."

"Betul itu, Pak Winarno. Saya sudah sering menangani laka lantas di jalan. Jadi sudah hapal dengan penyebabnya."

Pak Yanto pun mencoba mendekat ke arah ketiganya. Ingin tahu secara langsung apa hasilnya menurut pemeriksaan mereka bertiga. Sempat sedikit terkejut Pak Winarno dengan kehadiran Kades Langgar Jati itu. Sebab beliaunya datang tanpa menyapa.

"Semuanya normal tidak ada masalah apapun, Pak Yanto!"

"Tapi korbannya terus ada, Pak Winarno! Bahkan kemarin saat saya pulang dari tempat bapak sudah ada yang kecelakaan lagi."

"Oh, iya yang waktu Maghrib itu? Saya sendiri yang turun kemari untuk menangani kasus kecelakaannya."

Polisi itu juga mengakui kalau ini semua cukup aneh. Setiap korban yang ia tanyakan juga jawabannya nyaris sama. Mereka tak mampu kendalikan kendaraannya. Tapi bila dilihat secara psikologis, para korban ini normal. Bukan dalam kondisi mengantuk atau mungkin mengendarai motor saat mabuk.

"Aspal dan kondisi jalan masih bagus, pak!"

Begitu juga dengan keterangan pihak perusahaan kontraktor yang menangani proyek pembuatan jalan ini. Pak Yanto hanya diam saja. Sampai ada satu keputusan dari pihak Dinas Pekerjaan Umum akan bekerjasama dengan kepolisian untuk membuat rambu khusus. Sekaligus menambah penerangan di jalan penghubung antar desa ini. Sebab kecelakaannya selalu saja terjadi diantara waktu Maghrib.

***